LAMAN

Kamis, 04 Agustus 2011

MEDIA PEMBELAJARAN

TRISNO MARSA
MEMBUAT DAN MENGGUNAKAN ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE) UNTUK PENGEMBANGAN SAINS ANAK USIA DINI
Oleh: Nelva Rolina

ABSTRACT
Mengembangkan semua aspek dan kecerdasan pada anak usia dini, terutama pengembangan sains bisa dilakukan dengan berbagai cara yang salah satunya adalah dengan menggunakan APE. Beberapa gelintir guru disinyalir sering mengeluhkan minimnya APE di tempat mereka mengajar. Hal ini disebabkan harganya yang relative tinggi. Namun apakah harus patah semangat? Tentu tidak!! Caranya adalah dengan membuat sendiri APE yang dibutuhkan dan menggunakannya sesuai kebutuhan (termasuk untuk pengembangan sains).
Membuat APE untuk pengembangan sains tidak harus mengeluarkan biaya yang mahal. Pembuatan APE dapat dilakukan dengan menggunakan biaya yang murah atau bahkan tanpa biaya sama sekali karena memanfaatkan bahan bekas. APE yang dibuat sendiri oleh guru dapat dimanfaatkan sesegera mungkin. Penggunaan APE dapat dikolaborasikan dengan metode atau model pembelajaran yang tepat hingga semua aspek dan kecerdasan anak dapat berkembang, termasuk pengembangan sains.
Bila sudah mampu membuat dan menggunakan APE sesuai kebutuhan, tidak ada alasan guru atau pamong untuk tidak maksimal dalam mengajar. Tidak ada lagi keluhan membutuhkan biaya yang mahal. Ternyata peningkatan mutu pendidikan tidak selamanya harus dibayar dengan harga mahal.

PENDAHULUAN
Untuk meningkatkan mutu pendidikan anak, sangat diperlukan pemahaman yang mendasar mengenai perkembangan diri anak, terutama yang terjadi dalam proses pembelajarannya. Hal itu dimaksudkan agar kita dapat mengetahui ada atau tidaknya kesulitan yang dialami oleh si anak dalam proses belajarnya. Dengan pemahaman yang cukup mendalam atas proses tersebut diharapkan kita sebagai guru yang meliputi orang tua, pendidik di lembaga pendidikan (terutama guru TK), dan sebagai pemerhati pendidikan, mampu mengadakan eksplorasi, merencanakan, dan mengimplementasikan penggunaan sumber belajar dan alat permainan edukatif.
Saat ini beberapa gelintir guru TK mengeluh karena minimnya APE di TK tempat mereka mengajar. Menurut mereka, mengajar TK tanpa APE tidak mendapatkan hasil yang maksimal, walaupun APE bukannya segalanya. Kegiatan pembelajaran dapat terlaksana tanpa APE, dan aspek-aspek sarta kecerdasan-kecerdasan yang ada pada diri anak pun dapat berkembang, misalnya dengan permainan ataupun memanfaatkan alam.
Mencermati pendapat guru TK tersebut, alangkah lebih baik jika guru TK mampu membuat sendiri APE yang mereka butuhkan untuk mengajar. Kenyataannya, membuat APE terlihat sangat sulit dan disinyalir membutuhkan kreativitas yang tinggi. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah. Perlu latihan dan semangat yang tinggi untuk membuat APE yang dapat mengembangkan aspek maupun kecerdasan anak.
Pembuatan APE harus disesuaikan dengan kebutuhan, kurikulum yang ada, dan karakteristik anak TK (cocok untuk kelas A atau B). Bahan yang digunakan pun tidak sulit didapat, bahkan dapat menggunakan barang bekas atau limbah rumah tangga. Yang perlu diperhatikan adalah, bahan yang digunakan harus aman bagi anak. APE harus dibuat semenarik mungkin hingga anak fokus pada proses pembelajaran dan dapat mengembangkan segala aspek dan kecerdasan anak.
Pada bahasan kali ini, akan dipaparkan bagaimana membuat dan menggunakan APE untuk pengembangan sains pada anak. Mengapa hanya sebatas sains? Hal ini dikarenakan sains sering menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar siswa sekolah dasar dan menengah. Untuk itu, perlu pengenalan sejak dini bahwa sains itu menyenangkan. Selain itu, guru sering berpikir bahwa membuat APE untuk sains sangat sulit dan membutuhkan pemikiran yang dalam. Sehingga, bahasan kali ini focus pada APE untuk pengembangan sains anak usia dini.

APAKAH APE?
APE merupakan singkatan dari Alat Permainan Edukatif. Mengapa “permainan”? Karena pada dasarnya anak memang berada dalam masa bermain. Maka yang dibutuhkan bukanlah alat pembelajaran atau alat peraga, melainkan alat permainan untuk mendukung kegiatan bermainnya. Namun APE biasa disebut sebagai Media Pembelajaran ataupun Alat Peraga. Apakah ada perbedaan diantara istilah tersebut? Dan apa pula yang disebut sebagai Sumber Belajar?

 Media Pembelajaran
Pada hakikatnya kegiatan belajar-mengajar adalah suatu proses komunikasi (penyampaian pesan). Proses komunikasi harus diciptakan atau diwujudkan melalui kegiatan penyampaian tukar-menukar pesan atau informasi oleh setiap guru dan peserta didik. Menurut Ahmad Rohani (1997: 1) yang dimaksud pesan atau informasi dapat berupa pengetahuan, keahlian, ide, pengalaman, dan sebagainya. Sedangkan menurut Mudhoffir (1986:1-2) ada tambahan mengenai hal tersebut, yaitu bahwa pesan atau informasi tersebut disampaikan dalam bentuk ide, fakta, arti dan data. Pesan atau informasi yang dimaksud termasuk dalam salah satu sumber belajar yang membantu memecahkan masalah belajar. Jadi, dapat dikatakan bahwa penyampaian pesan atau proses komunikasi yang dilaksanakan sebagaimana mestinya dapat membantu memecahkan masalah belajar.
Guru yang mengharapkan proses dan hasil pembelajaran supaya efektif, efisien, dan berkualitas, semestinya memperhatikan faktor media instruksional yang keberadaannya memiliki peranan sangat penting. Media instruksional merupakan integral-part (bagian menyeluruh) dari proses komunikasi instruksional (belajar-mengajar) dan bertumpu pada tujuan pendidikan. Agar media instruksional yang digunakan dapat dimanfaatkan hingga mencapai tujuan yang ingin dicapai, maka perlu diketahui pengertian media instruksional.
Pengertian media instruksional adalah “sarana komunikasi yang digunakan dalam proses belajar-mengajar untuk mencapai tujuan instruksional yang efektif dan efisien melalui perangkat keras maupun lunak” (Ahmad Rohani, 1997: 4). Pengertian tersebut merupakan kesimpulan beberapa pengertian yang bila dijabarkan adalah sebagai berikut:
1. Segala jenis sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan instruksional. Mencakup media grafis, media yang menggunakan alat penampil, peta, model, globe, dan sebagainya.
2. Peralatan fisik untuk menyampaikan isi instruksional, termasuk buku, film, video, tipe, sajian slide, guru dan perilaku non verbal. Dengan kata lain media instruksional mencakup perangkat lunak (software) dan/atau perangkat keras (hardware) yang berfungsi sebagai alat belajar/alat Bantu belajar.

3. Media yang digunakan dan diintegrasikan dengan tujuan dan isi instruksional yang biasanya sudah dituangkan dalam Garis Besar Pedoman Pembelajaran (GBPP) dan dimaksudkan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar.
4. Sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara, dengan menggunakan alat penampil dalam proses belajar mengajar untuk mempertinggi efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan instruksional, meliputi kaset, audio, slide, film-strip, OHP, film, radio, televisi, dan sebagainya.
Sedangkan menurut Sudjana dan Rivai (1991: 1), media instruksional merupakan alat bantu mengajar yang termasuk dalam komponen metodologi penyampaian pesan untuk mencapai tujuan instruksional. Dengan melihat kedua pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa media instruksional merupakan media yang dipergunakan dalam proses instruksional (belajar-mengajar), untuk mempermudah pencapaian tujuan instruksional yang lebih efektif dan memiliki sifat yang mendidik. Hingga menurut Sudjana dan Rivai, klasifikasi media instruksional meliputi media grafis, media fotografi, media proyeksi, media audio dan media tiga dimensi (1991: 27-207).
Bila dihubungkan dengan anak usia dini, media pembelajaran dikenal sebagai Alat Permainan Edukatif atau sering disingkat APE. Menurut Sudono (2000), alat permainan adalah semua alat bermain yang digunakan anak untuk memenuhi naluri bermainnya dan memiliki berbagai macam sifat seperti bongkar pasang, mengelompokkan, memadukan, mencari padanannya, merangkai, membentuk, mengetok, menyempurnakan suatu desain, atau menyusun sesuai bentuk utuhnya. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa APE merupakan alat permainan yang mempunyai nilai-nilai edukatif, yaitu dapat mengembangkan segala aspek dan kecerdasan yang ada pada diri anak.
Alat permainan yang dapat mengembangkan segal aspek dan kecerdasan yang ada pada anak dapat diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran yang sesuai, di antaranya:
1. Active learning, yaitu pembelajaran yang menuntut keaktivan anak sehingga semua aspek yang ada pada diri anak dapat berkembang, baik aspek pengembangan pembiasaan maupun kemampuan dasar.
2. Attractive learning, yaitu pembelajaran yang menarik sehingga semua aspek yang ada pada anak dapat berkembang, baik aspek pengembangan pembiasaan maupun kemampuan dasar.
3. Joyful learning, yaitu pembelajaran yang menyenangkan sehingga semua aspek anak dapat berkembang, baik aspek pengembangan pembiasaan maupun kemampuan dasar.
4. Multiple Intelligences Approach, yaitu pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kecerdasan jamak/majemuk sehingga semua kecerdasan yang dimiliki anak dapat berkembang.
Sejalan dengan istilah media pembelajaran, ada istilah alat peraga. Adakah perbedannya? Perbedaannya dapat dilihat pada bagan berikut:









 Sumber Belajar
Dalam usaha meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran, kita tidak boleh melupakan satu hal yang sudah pasti kebenarannya yaitu bahwa peserta didik atau siswa harus banyak berinteraksi dengan sumber belajar. Tanpa sumber belajar yang memadai sulit diwujudkan proses pembelajaran yang mengarah kepada tercapainya hasil belajar yang optimal. Namun, apa sebenarnya sumber belajar itu? Perlu diketahui definisi sumber belajar yang jelas.
AECT (1977) mengartikan sumber belajar sebagai semua sumber (data, manusia, dan barang) yang dapat dipakai oleh pelajar sebagai suatu sumber tersendiri atau dalam kombinasi untuk memperlancar belajar dan meliputi pesan, orang, material, alat, teknik, dan lingkungan. Sumber belajar bahkan berubah menjadi komponen sistem instruksional apabila sumber belajar itu diatur sebelumnya (prestructured), didesain dan dipilih lalu dikombinasikan menjadi suatu sistem instruksional yang lengkap sehingga mengakibatkan belajar yang bertujuan dan terkontrol.
Sumber belajar memiliki 6 bentuk atau terbagi menjadi 6 golongan. Menurut Wiryokusumo & Mustaji (1989), pengertian dan contoh tiap-tiap bentuk sumber belajar tersebut dijabarkan dalam table berikut:
Sumber Belajar Pengertian Contoh
Pesan Pelajaran/informasi yang diteruskan oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti, dan data. Semua bidang studi atau mata pelajaran (untuk pendidikan anak usia dini adalah semua kegiatan yang dapat mengembangkan semua aspek dan kecerdasan anak).
Orang/Manusia Manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah dan penyaji pesan. Tidak termasuk mereka yang menjalankan fungsi pengembangan dan pengelolaan sumber belajar. Guru Pembina, guru pembiming, tutor, pamong, murid, pemain, pembicara, tidak termasuk tim kurikulum, peneliti, produser, teknisi dan lain-lain yang tidak langsung berinteraksi dengan siswa.
Bahan/Material Sesuatu (biasa disebut media atau software) yang mengandung pesan untuk disajikan, melalui penggunaan alat ataupun oleh dirinya. Transparansi, slide, film, film strip, audio tape, video, tape, modul, majalah, bahan pengajaran terprogram, dan lain-lain.
Alat/Peralatan Sesuatu (biasa pula disebut hardware atau perangkat keras) yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan. Proyektor, slide, film strip, film, OHP, LCD, video tape atau kaset recorder, pesawat televise, dan lain-lain.
Teknik Prosedur rutin atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, alat, orang, dan lingkungan untuk menyampaikan pesan. Pengajaran terprogram belajar mandiri, mastery learning, discovery learning, simulasi, BCCT, kuliah, ceramah, Tanya jawab, active learning, joyful learning, attractive learning, multiple intelligences approach, dan lain-lain.
Lingkungan Situasi sekitar di mana pesan diterima. Lingkungan pikir, gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain.
Tiap-tiap bentuk sumber belajar tersebut harus berinteraksi dengan siswa bila menginginkan kualitas dan hasil belajar yang optimal. Karena unsur sumber-sumber belajar itu merupakan komponen usaha yang dapat mendukung proses belajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, maka perlu kiranya ada organisasi pengelolaannya. Dan mengingat kenyatan yang ada bahwa keterbatasan dana dan tenaga yang mendukung sumber-sumber belajar itu juga dipandang perlu adaya suatu strategi pengelolaan yang efektif dan efisien. Mampukah kita sebagai praktisi pendidikan mewujudkannya?

MEMBUAT APE
Untuk membekali diri dalam melaksanakan proses pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, guru dan orang tua diharapkan mampu menciptakan hasil karya yang orisinal berupa APE. Yang harus diperhatikan adalah setiap pembuatan APE haruslah mengikuti kriteria yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak (Misal: pada siswa TK, mana untuk kelas A dan mana untuk kelas B).
1. Usaha Guru adalah Faktor Utama
Kegiatan guru yang seharusnya diperhatikan menurut Sudono (2000) adalah:
a. Merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan maupun pengaturan waktu.
b. Mengatur penempatan semua peralatan dan perabotan yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhan (sesuai kurikulum dan tingkatan kelas) dan keamanan.
c. Segala kegiatan yang dipersiapkan oleh guru harus memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.
d. Memantau setiap kegiatan (membosankan atau menyenangkan).
e. Melatih kemandirian anak.
2. Bahan yang Digunakan untuk Pembuatan APE
Bahan yang biasa digunakan untuk membuat APE harus memperhatikan keamanan bagi anak atau siswa. Bahan-bahan tersebut adalah kayu, styrofoam dan busa, tekstil, kardus, bambu, tali, pelepah (papaya, pisang, pinang), biji-bijian, daun kering, raffia, karet, kulit, kapuk, karton, dan kertas bekas (yang sudah tidak digunakan lagi).

3. Kriteria Keamanan yang Harus Selalu Dipertimbangkan
Menjaga keselamatan, kesehatan, dan keamanan anak merupakan persyaratan utama. Berkaitan dengan pembuatan APE, maka bahan-bahan yang digunakan haruslah:
a. Kayu tidak berserat dan diamplas
b. Bambu bebas dari bulu yang gatal
c. Jangan tajam
d. Cat non toxid (bebas racun)
e. Menghindari benda yang berpotensi masuk ke mulut (bagi anak yang masih cenderung memasukkan benda ke mulut)
f. Memotong styrofoam memerlukan pisau tajam
g. Pembuatan dengan ukuran yang presisi (ketepatan)
h. Paku jangan menonjol
4. Cara Pembuatan APE
Cara membuat APE tidak terlepas dari macam-macam APE itu sendiri. Petunjuk pembuatannya sesuai dengan jenisnya. Berikut merupakan contoh pembuatan APE untuk pengembangan sains:
* Pembuatan timbangan sederhana: alat atau bahan untuk ditimbang (seperti: gabus, kayu, plastik, dll), gelas ukuran, tanaman bumbu dapur, soda kue, zat pewarna, berbagai kotak bekas, dll.
Bahan:
 tangan: kayu panjang 40 cm, lebar 2 cm, tebal 1,5 cm, beberapa mangkuk bekas mentega.
 tiang: tinggi 25 cm, lebar 4 cm, tebal 2 cm.
 dasar: panjang 10 cm, lebar 6 cm, tebal 3 cm.
Caranya:
 tangan: ukur sama dari tengah dan beri lekukan kecil untuk tempat menggantungkan tali pemegang mangkuk bekas mentega.
 tiang: paada ujungnya dipotong lekukan untuk menaruh tangan timbangan.
 dasar: beri lubang agar tiang dapat diberdirikan. Ukuran lubang 6x3 dengan kedalaman 3 cm.
* Membuat gelas ukuran:
Bahan: gelas, botol plastik bekas minimum 250 cc.

PENUTUP
Paparan di atas merupakan sekelumit tentang APE dan beberapa contoh cara pembuatannya. Dengan contoh-contoh tersebut diharapkan guru mampu mengembangkan sendiri dan mampu membuat APE sesuai karakteristik anak, sesuai pula dengan tingkatan kelasnya (untuk TK: A dan B). APE yang dibuat seharusnya dapat mengembangkan semua aspek dan kecerdasan yang ada pada diri anak, khususnya mengembangkan sains anak (karenadi sini focus pada pengembangan sains).
Bila guru sudah mampu membuat APE sendiri, tidak ada alasan bahwa “guru kurang berhasil dalam mengajar karena tidak tersedianya APE di TK”. APE dapat dibuat sendiri dan tidak harus dari bahan yang mahal. APE dapat dibuat dari barang bekas atau limbah rumah tangga, bahkan memanfaatkan alam. Penggunaan APE dapat disesuaikan dengan kurikulum yang ada atau sesuai kebutuhan.
APE dapat dikolaborasikan dengan metode atau model pembelajaran yang tepat hingga semua aspek dan kecerdasan anak dapat dikembangkan. Misalnya active learning, attractive learning, joyful learning, dan multiple intelligences approach. Dengan demikian diharapkan akan tercipta output yang lebih bermutu dan siap untuk “bersaing di pasar bebas” (masyarakat).


DAFTAR PUSTAKA


AECT. 1977. Definisi Teknologi Pendidikan: Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Ahmad Rohani. 1997. Media Instruksional Edukatif. Rineka Cipta. Jakarta.

Anggani Sudono. 2000. Sumber Belajar dan Alat Permainan (untuk Pendidikan Anak Usia Dini). PT. Grasindo. Jakarta.

Iskandar Wiryokusumo & Mustaji. 1989. Pengelolaan Sumber Belajar. University Press IKIP Surabaya. Surabaya.

Mudhoffir. 1986. Teknologi Instruksional. CV. Remadja Karya. Bandung.

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai. 1991. Media Pengajaran. Lemlit IKIP Bandung dan CV. Sinar Baru. Bandung.
Poskan Komentar