LAMAN

Minggu, 24 April 2011

PTK BAHASA INDONESIA

BAB I


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Globalisasi pada era modern sekarang ini menimbulkan suatu sistem persaingan bebas dalam segala kehidupan, menurut kita untuk harus selalu berusaha meningkatkan kemempuam berpikir, sehingga kita dapat bersaing dengan bengsa –bangsa liain di Dunia. Hal ini memiliki kaitan yang erat dengan dunia pendidikan . oleh karena itu dengan keterkaitan dunia pendidikan, erat sekali hubungan dengan siswa sekolah Dasar sebagai pondasi jenjang pendidikan dari pendidikan yang lebih tinggi dari yang lainya. Kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh setiap siswa sekolah Dasar adalah membaca, menulis dan berhitung. Mengingat pentingnya tiga kemampuan dasar tersebut sebagai dasar untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lain, pada awal(kelas 1) mata pelajaran ini mendapat jatah/ porsi yang lebih banyak.
Pelajaran bahasa Indonesia mulai dikenal ditingkat Sekolah Dasar sejak kelas satu, hal ini seperti ulat hendak metamorfosis menjadi kupu-kupu. Mereka memulai dari nol. Pada masa tersebut meteri mata pelajaran Bahasa Indonesia hanya cukup membaca, menulis sambung serta membuat karangan singkat, baik berupa karangan bebas hingga

mengarang dengan ilustrasi gambar. Sampai tingkat selanjutnya pola yang digunakan
tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pengajaran Bahasa Indonesia yang monoton akan membuat siswa bosan yang sehingga jika mencapai titik kejenuhan akan membuat siswa jenuh akan belajar Bahasa Indonesia. Hal ini diperparah dengan buku-buku paket yang menjadi buku wajib. Sementara ini dari materi yang terlalu luas akn cenderung bersifat hafalan yang membosankan. Inilah yang memupuk sifat menganggap remeh pelajaran Bahasa Indonesia yang kandungan meteri monoton yang membosankan. Tentunya hal ini menuntut perbaikan sistem penyelenggaraan pendidikan di Sekolah terutama di Sekolah Dasar Negeri 1 Jembrana mengacu pada UU No 20 tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 tentang Standarisasi Pendidikan Nasional dan Peraturan Menteri No 22, 23 dan 24 tahun 2006.
Menurut silabus SD kelas 1 pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terdapat rumusan yang jelas bahwa kelas satu SD harus mampu (1) menulis dengan jelas dan rapi dan (2) menulis kalimat sederhana dengan benar yang dimulai dengan huruf kapital. Denan demikian siswa kelas satu naik ke kelas dua apabila minimal sudah memiliki dua kemampuan dasar tersebut selain kemampuan lain yang tertera pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Dari beberapa tes yang dilakukan di beberapa Sekolah Dasar di Indonesia tentang gambaran dari hasil pembelajaran Bahasa Indonesia di Tingkat Sekolah Dasar. Tes

yang digunakan adalah tes yang dikembangkan oleh Proyek Bank Dunia, yaitu PEQIP
dan Proyek Pendidikan Dasar ( Basic Education Projects) dan juga yang digunakan dalam program MBS dari UNESCO dan UNECEF. Dari tes menulis dinilai bersasarkan lima unsur: tulisan tangan ( tulisan rapi), ejaan, tanda baca, panjang karangan dan kualitas bahasa yang digunakan. Hanya 19 % anak yang bisa menulis dengan tulisan tegak bersambung dan rapih, sedangkan 64 % bisa menulis rapih tetapi tidak tegak bersambung. Perbedaan antar sekolah sangat mencolok. Pada beberapa sekolah kebanyakan sekolah kebanyakan anak menulis dengan rapih, sementera ada bebrapa sekolah ada yang belum mampu seperti hal itu. Ini hampir bisa dipastikan bahwa guru-guru pada sekolah dasar yang mampu menulis bagus mampu mengajarka tulisan bagus. Sementara pada sekolah guru yang tulisanya kurang bagus tidak mengajarkan menulis rapi.
Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, ternyata siswa kelas satu pada Sekolah Dasar Negeri 1 Jembrana, Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur sebagian besar tulisanya belum rapi dan belum jelas bahkan tidak bisa dibaca. Disamping itu yang dialami penulis selama mengajar kelas yang lebih tinggi( kelas enam) masih banyak tulisanya belum jelas. Ketidak jelasan tulisan tersebut antara lain besarnya huruf, bentuk huruf, dan kemiringan atau tegaknya tulisan. Sehingga tulisan sulit dibaca. Berdasarkan uraian diatas penulis mencoba melakukan penelitian tindakan

kelas untuk memperbaiki tulisan siswa kelas satu agar menjadi lebih rapi dan jelas serta mudah dibaca. Tindakan yang akan ditempuh dalam penelitian adalh dengan menggunakan buku halus dalam pembelajaran menulis halus.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dirumuskanan, masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
a. Apakah dengan penggunaan buku tulis halus dapat mengangkat kemapuan menulis siswa di Kelas 1 SDN 1 Jembrana
b. Apakah penggunaan buku tulis halus dapat meningkatkan aktifitas menulis siswa kelas 1 SDN 1 Jembrana?
c. Bagaimana implementasi penggunaan buku tulis halus dslsm meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas 1 SDN 1 Jembrana ?

C. Tujuan Penalitian
a. untuk meningkatkan aktifitas menulis siswa kelas 1 SDN 1 Jembrana dengan menggunakan buku tulis halus.
b. Dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas 1 SDN 1 Jembrana
c. Untuk mengeimplitasikan buku tulis halus dalam meningkatkan tulisan dan aktivitas menulis siswa kelas 1 SDN 1 Jembrana

D. Manfaat Penelitian
Hasil Penilitian Tindakan Kelas dapat memberikan manfaat bagi:
a. Guru
Dapat melatih diri untuk meningkatkan kesadaran dan kompetensi diri dalam penekanan penulisan yang benar dan jelas terutama bagi guru kelas rendah khususnya kelas satu
b. Siswa
1. menimbulkan rasa senang dan memotivasi belajar siswa dalam belajar
membaca dan menulis
2. meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis halus
dengan baik dan benar pada buku halus
c. Sekolah
Dapat memberikan sumbangan yang berguna dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya menulis halus pada buku halus di Kelas 1 SDN 1 Jembrana





BAB II
KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA
A. Belajar Mengajar
Belajar dan mengajar adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainya. Pada umumnya belajar, merunjuk kegiatan yang harus dilakukan siswa dan mengajar merunjuk kegiatan yang harus dilakukan oleh guru.
Proses belajar mengajar terjadi apabila ada interaksi educatif ( hubungan kependidikan) antara guru dan siswa atau sesama siswa dalam belajar bersama. Siswa dipandang sebagai subyek didik karena sessungguhnya siswa adalah sebagai subyek (pelaku) belajar karena siswa adalah sasaran pendikan. Kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan yang dilakukan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Kegiatan guru adalah kegiatan – kegiatan yang bersifat belajar. Jadi kedua kegiatan itu saling berkaitan, bahkan kegiatan pengajaran tujuan nya adalah untuk menggerakan kegiatan belajar siswa.
Menurut Drs. H. Acmad Djazuli( 1996: 88) “ Belajar adalah upaya untuk perubahan pengetahuan, nilai dan sikap serta ketrampilan yang pada giliranya akan ada pengaruhnya dalam perubahan tingkah laku”. Perubahan yang dimaksud adalah selalu berhubungan dengan peningkatan. Dengan demikian, seorang dikatakan belajar kalau ada perubahan atau peningkatan kualitas tingkah laku

B. Tulisan yang rapi dan jelas
Tulisan adalah sarana komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu orang perlu membaca dan menulis. Menurut melissa H.K.P(2005:1) “ Tulisan merupakan gambaran kepribadian seseorang, jiwa atau watak seseorang”. Jadi kepribadian seseorang dapat dibaca melalui tulisan. Ini jadi tulisan dapat mempengaruhi pribadi seseorang.
Tulisan adalah hasil kegiatan menulis, sedangkan menulis adalah membuat huruf atau angka dengan pena, pensil, kapur, dan sebagainya. Rapi dapat berarti baik, teratur, bersih, atau apik. Jelas berarti terang, nyata atau gamblang. Dengan demikian, tulisan yang rapi dan jelas artinya tulisan yang teratur, bersih serta terang, nyata dan gablang keadaanya sudah rapi dan jelas sehingga tulisan akan mudah dibaca dan enak dilihat
C. Bentuk Huruf yang Benar
Sejak dini (kelas satu ) sudah dikenalkan atau diajarkan bentuk huruf yang benar. Guru (terutama kelas satu ) mengenalkan huruf sembarangan yang tidak jelas sumbernya / asal muasalnya, akan menamkan konsep yang salah pada diri anak. Konsep yang telah tertanam akan dibawa pada kelas berikutnya. Konsep tersebut akan sulit debenahi atau diperbaiki sebab sudah terlanjur tertanam ibarat kertas putih yang sudah terlanjur ditulisi dengan tinta hitam. SK Dirjen Dikdasmen Nomor 094/Kep/ 1.83 tentang penegasan Ukuran Tulisan Tangan. No. 0521/ C 2/ U 88, tanggal 27 Juni 1988 tentang Penulisan huruf yang dibedakan menjadi dua macam yaitu huruf lepas dan huruf tegak

bersambung
D. Buku Tulis Halus
Buku tulis yang tersedia ditoko –toko dibedakan menjadi tiga macam yaitu buku tulis biasa, buku tulis halus dan buku berpetak. Dari ketiga buku tersebut yang tepat untuk menulis halus untuk pembelajaran menulis permulaan( kelas satu dan kelas dua ) adalah buku tulis halus.
Menurut Eko Siswanto ( 1995/1996) kelebihan buku tulis halus dibanding buku lain untuk menulis halus pembelajaran menulis permulaan adalah sebagai berikut:
1) Mempermudah siswa dalam menyamakan besarnya huruf dalam menulis. Hal ini disebabkan besarnya huruf yang ditulis siswa dipandu oleh dua garis diatas dan dibawah yang berjarak pendek, sehingga tulisanya siswa akan tepat pada garis tidak lebih dan tidak kurang dari garis
2) Membantu siswa dalam menulis perbandingan besarnya huruf besar dan huruf kecil. Bila sedang menulis huruf lepas atau cetak perbandingan agak mudah menulisnya. Demikian pula menulis huruf tegak bersambung untuk perbandingan huruf kecil membutuhkan satu ruang, sedangkan huruf besar memerlukan tiga ruang kecuali huruf g,j dan y memrlukan lima ruang. Dengan perbandingan huruf besar dan huruf kecil
3) Membantu siswa dalam membuat tegak tulisan ( tidak miring kekanan atau
miring kekiri )

Jadi dengan tiga kelebihan yang dimiliki buku tulis halus tersebut jelas akan membantu siswa dalam belajar membaca dan menulis permulaan. Dengan menggunakan buku tulis halus hasil tulisan siswa akan memiliki besar yang sama, perbandingan huruf besar dangan huruf kecil menjadi benar dan tegak yang bersambung sehingga terlihat rapi, indah serta jelas.
E. Pembelajaran Menulis Permulaan
Menurut Susiana ( www. Agromedia.net) “ menulis adalah kegiatan yang membutuhkan ketelatenan, kerapihan dan konsitensi”. Dengan berlatih menulis terutama susunan kata maupun huruf, baik huruf besar maupun huruf kecil dengan tegak bersambung, otomatis ketiga hal tadi akan menyerap dalam kateristik anak yaitu ketelatenan, kerapihan dan konsistensi.
Dengan demikian menulis tidak hanya sekedar suatu ketrampilan semata yang harus dikuasai oleh setiap orang agar mampu membaca dan menulis dengan baik tetapi menulis bisa merupakan cermin kuat dalam pantulan karakteristik seseorang. Oleh seba itu dalam ilmu grafologi yaitu ilmu yang membaca karakteristik seseorang melalui tulisan tangan yang dibuatnya sendiri.
Mengajarkan anak menulis sejak dini adalah epnting sebagai tonggak batu proses belajar pada usia selanjutnya. Pembentukan ketrampilan menulis sejak usia dini , anak akan memiliki karakter yang positif. Pengaruhnya nak akan memiliki kebiasaan positif dalam menjalaniaktivitas sehari- hari

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran menulis permulan yaitu:
1) Tingkat perkembangan anak. Perkembangan anak anatra anak yang satu dengan yang lain berbeda –beda dilihat dari fisik maupu Psikis. Ada perkembangan
yang cepat, sedang dan lambat
2) Tingkat kesiapan anak. Tingkat kesiapan anak dalam menerima pelajaran berbeda –beda, terutama anak dari TK dan bukan dari TK
3) Sikap membaca dan menulis yang benar. Hal –hal yang perlu diperhatikan membaca dan menulis dalam kaitanya dengan kesehatan:
a) Sikap duduk. Sikap duduk yang baik dalam membaca dan menulis adalah dada tidak menempel pada meja, badan tegak, jarak mata dengan buku antara 25 – 30 cm.
b) Penerangan. Penerangan yang baik adalah cahaya cukup terang dan sinar datang dari arah kiri
c) Letak buku hendaknya tegak sejajar dengan pinggir meja tulis
d) Memegang pensil harus benar
Dalam mengukur aktifitas siswa melalui pembelajaran menulis perlu memperhatikan idikator – indikator sebagai berikut:
1. Perilaku On Task
a. Mengajukan pertanyaan tentang tulisan guru
b. Aktif memperhatikan cara guru menulis di papan tulis

c. Terlibat aktif dalam menulis
2. Perilaku Off Task
a. Selalu ribut tidak memperhatikan pelajaran
b. Mengganggu teman yang sedang aktif menulis
c. Melamun atau kurang bergairah untuk belajar menulis
A.Malik Thochir (1993 )
Tulisan yang baik adalah tulisan yang rapih,jelas dan mudah dibaca orang lain. Kenyataan yang terjadi di kelas,tidak semua siswa dapat menulis sesuai dengan yang diharapkan diatas.Ada anak yang tulisannya belum baik dan benar.Hal ini terlihat dari nilai menulis siswa yang didasarkan pada daftar nilai guru kelas 1a di SDN 1 Jembrana Kecamatan Waway Karya Kabupaten Lampung Timur ( tabel terlampir). Siswa kelas 1a yang berjumlah 45 0rang siswa mempunyai rata-rata nilai menulis yaitu 5, 76 dimana itu berarti nilai menulis masih rendah.
Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk memperbaiki tulisan siswa agar tulisannya menjadi lebih rapih,jelas dan benar serta mudah dibaca. Penelitian Tindakan Kelas (PTK ) ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tulisan dan aktifitas menulis siswa kelas satu SDN 1 Jembrana, Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur.




BAB III
PROSEDUR PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan secara klasikal dalam kualitas tulisan dan keaktifan menulis siswa kelas 1 SDN 1 Jembrana . Penelitian dilaksanakan di kelas 1 semaster ganjil tahun pelajaran 2008/2009. Penelitian dilaksanakan selama lebih kurang tiga bulan sejak Januari sampai dengan Maret 2009. Mulai tahap persiapan (penyusunan silabus,persiapan alat dan media pembelajaran dan evaluasi). Sampai dengan tahap pelaksanaan pembelajaran di sekolah dan tahap pelaporan.Pada tahap pelaksanaan dikelas materi pokok yang menjadi objek penelitian adalah materi Bahasa Indonesia dalam penggunaan buku tulis halus kasar.
A. Seting Penelitian
Penelitia tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas 1 SDN 1 Jembrana Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur tahun 2009, yang berlokasi di jalan raya merdeka Jembrana Kecamatan Waway Karya , Kabupaten Lampung Timur. Siswa kelas 1a yang berjumlah 21 orang dengan kriteria laki-laki 17 dan 5 perempuan. Di SDN 1 Jembrana mempunyai kelas 1 sebanyak satu kelas. Peneliti memilih kelas 1 yang akan diteliti karena:
1. Dikelas satu ini sebagian besar siswanya belum dapat menulis dengan jelas.

2. Hampir sebagian siswa belum memiliki buku tulis halus.
3. Masih banyak siswa yang belum dapat memegang pinsil dengan benar
B. Deskripsi per siklus
Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 3 siklus,setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan,pelaksanaan,observasi,refleksi.
Siklus I
1. Perencanaan
a. Mengobservasi dari keseluruhan kelas yang ada tersebut hingga terdata dari keadaan kelas yang tulisannya masih jauh dari benar.
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang menyiapkan kerangka perbaikan pelajaran
c. Menyiapkan alat bantu buku tulis halus kasar
d. Menyiapkan instrumen observasi
2. Pelaksanaan
Proses belajar Mengajar dilaksanakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada tahap ini kemampuan yang akan diajarkan adalah:
a. Langkah membangun pengetahuan siswa melalui dari sikap duduk yang benar,yaitu jarak mata dengan buku # 30 cm dan cahaya penerangan ( lampu) di kelas jelas.
b. Meluruskan buku tulis halus yang telah dibagikan pada siswa,menghimbau

c. kepada siswa memegang pinsil yang benar.
d. Siswa menjiplak dan menebalkan berbagai bentuk gambar dan garis
e. Siswa dapat menjiplak dan menebalkan berbagai bentuk gambar dan garis
f. Guru menjelaskan dan memberi contoh menulis permulaan dan berkeliling kelas.
g. Guru memberi tugas kepada siswa
h. Siswa menulis di buku tulis halus kasar
i. Guru menyimpulkan pekerjaan siswa dengan memberi nilai
j. Guru menutup pelajaran dengan berdoa bersama
3. Observasi
Pada waktu pelaksanaan pembelajaran penulis melakukan observasi menggunakan instrumen observasi untuk memperoleh data tentang kemampuan menulis siswa dan aktifitas menulis siswa.
4. Refleksi
Setelah melalui proses pelaksanaan dan berdasarkan hasil observasi peneliti melakukan refleksi terhadap aktifitas dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I .Hasil refleksi pada siklus I ini digunakan untuk menyimpulkan tindakan-tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus II.



Siklus II
Tindakan dilaksanakan pada siklus II disusun / disimpulkan berdasarkan hasil refleksi terhadap aktifitas dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I Sebagai berikut: sebelum pelajaran dimulai guru mengingatkan siswa agar duduk dengan benar,yaitu tegak dengan jarak mata dengan buku + 30 cm.Semua siswa menggunakan bukubtulis dan pinsilnya diruncingkan, selanjutnya guru menulis kalimat di papan tulis, siswa menyalin di buku masing-masing.Setelah selesai menulis di papan tulis guru berkeliling membetulkan cara memegang pinsil dan memegang tangan siswa yang belum bisa menulis.

Siklus III
Tindakan dilaksanakan pada siklus III disusun atau disimpulkan berdasarkan hasil refleksi terhadap aktifitas dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II.








BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian Siklus I
Berdasarkan hasil test formatif setiap kali perbaikan pembelajaran digunakan data dalam penelitian tindakan kelas (PTK) sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Test Formatif Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siklus I, II, dan III.
Tabel 1: Hasil Tes Bahasa Indonesia
No N a m a Siklus I Siklus II Siklus III Keterangan
1 I Ketut Agus Pratama 6 6 7
2 Ni Putu Apriliani 7 7 8
3 I Gede Galih S 5 6 6
4 Ni Komang Riyani 6 6 7
5 I Gede Warsana 6 7 8
6 I Putu Restu AYP 6 7 7
7 I Km Widiadnyana 7 7 8
8 I Km Jingga Sasmita 6 6 7
9 I Kd Sentanu Adi W 8 8 8
10 Kt Yudiana 6 6 7
11 I Kt Adi Sastika 5 5 6
12 I Kd Dwi Susila 6 7 7
13 I Kt Angga Wiraputra 6 6 7
14 I Pt Mahendra Setiawan 6 7 7
15 I Pt Oka Sutamba 5 6 7
16 I Pt Veri Ramawan 7 7 8
17 Dw Km Krisna Aditya 5 5 6
18 Gilang Purnama 6 6 7
19 Ni Putu Eka Darmini 6 7 7
20 Ni Putu Deaputri Astini 6 6 7
21 Ni Km Ayu Trisna Dewi 5 6 6



Untuk melihat hasil termen secara garis besar dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel 2. hasil termen siklus I, Siklus II, dan Siklus III
No Nilai Siklus I Siklus II Siklus III Keterangan
F E F E F E
1 8 1 8 1 8 5 40
2 7 3 21 8 56 12 84
3 6 12 72 10 60 4 24
4 5 5 25 2 10 0 0
Jumlah 126 134 148
Rata-rata 6,00 6,38 7,04
B. Deskripsi Temuan
Berdasarkan data diatas dapat di simpulkan sebagai berikut:
1. Untuk nilai 8 Pada Siklus I ada 1 siswa
Pada Siklus II ada 1 siswa
Pada Siklus III ada 5 siswa
2. Untuk nilai 7
Pada Siklus I ada 3 siswa
Pada Siklus II ada 8 siswa
Pada Siklus III ada 12 siswa

3. Untuk nilai 6
Pada Siklus I ada 12 siswa
PadaSiklus II ada 10siswa
Pada Siklus III ada 4siswa
4. Untuk nilai 5
Pada Siklus I ada 5 siswa
PadaSiklus II ada 2 siswa
Pada Siklus III ada 0 siswa
Hasil test Siklus I jumlah nilai 126 dengan nilai rata-rata 6,00. Hasil test siklus II
jumlah nilai 134 dengan nilai rata-rata 6,38 sehingga terjadi peningkatan 0,38.
Hasil test Siklus III jumlah nilai rata-rata 7,04. Secara umum siklus ini dapat dikatakan
berhasil karena nilai mengalami kenaikan 0,66.
C. Hasil Non Test Siklus I
Hasil non test meliputi hasil observasi dan wawancara sebelum test tertulis dimulai.Guru mengingatkan siswa agar duduk dengan benar,yaitu tegak dan jarak mata dan buku + 30 cm.Semua siswa menulis dengan menggunakan buku tulis halus dan pinsilnya diruncingkan. selanjutnya guru menulis kalimat di papan tulis, siswa menyalin di buku masing-masing.Setelah selesai menulis di papan tulispeneliti berkeliling membantu cara memegang pinsil, cara duduk yang benar ,memeriksa
keruncingan pinsil dan lain-lain

Setelah selesai peneliti mewawancarai siswa yang mendapat nilai 8,menurut mereka menggunakan buku tulis halus lebih enak dan mudah sehingga nilainya bertambah baik sedangkan menurut siswa menggunakan buku tulis halus masih merasa canggung karena belum terbiasa.

D. Hasil Non Test Siklus II
Suasana dalam kelas tenang,siswa memperhatikan penjelasan guru,selanjutnya guru menulis bacaan di papan tulis dan siswa menyalin di buku tulis masing-masing. Buku tulis yang digunakan siswa seluruhnya adalah buku tulis halus.
Cara duduk siswa ada yang sudah benar yaitu tegak dan jarak mata dengan buku + 30 cm,tetapi ada sebagian siswa yang cara duduknya belum benar.Cara memegang pinsil sebagian siswa sudah benar tetapi ada sebagian kecil cara memegang pinsil belum benar.Keruncingan pinsil sebagian besar sudah benar,hasil wawancara peneliti dengan dua siswa mengatakan bahwa menggunakan buku tulis halus lebih mudah.

E. Hasil Non Test Siklus III
Pelajaran terlaksana dengan lancar dan tenang. Peneliti memulai penjelasan selama 5 menit. Setelah itu guru menulis kalimat di papan tulis,sedangkan siswa menyalinnya di bukunya masing-masing.Kali ini guru tidak lagi mengingatkan tentang cara duduk,keruncingan pinsil dan lain-lain.

Anak-anak sudah terbiasa,karena setiap hari guru mengingatkannya sebelum menulis. Hampir semua siswa sudah duduk dengan benar,cara memegang pinsil dan keruncingannya sudah baik.Setiap menulis yang digunakannya juga buku halus.
Peneliti mewawancarai sebagian siswa menurut mereka sekarang tulisannya menjadi lebih baik,menggunakan buku tulis halus sudah biasa dan sudah tidak canggung lagi.Jadi pada Siklus III ini nilai siswa mengalami kenaikan atau peningkatan rata-rata 0,71.













BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian tindakan kelas ini adalah dengan menggunakan buku tulis halus dalam pembelajaran menulis di kelas satu, tulisan siswa menjadi lebih rapi dan jelas.Selain itu juga terjadi perubahan perilaku pada diri siswa yaitu pada waktu menulis tidak canggung lagi menggunakan buku tulis halus,bahkan merasa lebih enak dan mudah.Cara memegang pinsil dan cara duduknyapun benar
A. Saran
1. Agar tulisan siswa lebih rapih dan jelas hendaknya guru dalam pelajaran menulis permulaan menggunakan buku tulis halus.Selanjutnya agar tulisan siswa yang sudah rapi dan jelas bertahan terus .Sebaiknya penggunaan buku tulis ini dilanjutkan sampai kelas dua dan tiga pada pelajaran Bahasa Indonesia.
2. Para guru (terutama kelas 1) dalam pembelajaran membaca menulis permulaan hendaknya diberi contoh atau di kenalkanbentuk huruf sambung maupun hurup lepas yang sudah benar sesuai benar sesuai dengan SK Dirjen Dikkasmen No 094/C/Kep/1/20083
Demikiah perbandingan hurup besar dan hurup kecil serta perbandingan hurup lepasa dan huruf sambung juga harus jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin.M.1994.1995.Dasar-dasar Kependidikan.Jakarta:Dirjen Binbaga Islam
Depdikbud.1990. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Depdikbud. 1993. Kurikulum Pendidikan Dasar Garis-garis Program Pengajaran
Kelas1.Jakarta: P2MSD, TK dan SLB
Melisa, dkk. 2005. Latihan Menulis Huruf Tegak Bersambung. Solo: CV. Kharisma
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dinas P dan K. 2002. Penyesuaian Materi
Kurikulum 1994 dan Suplemen Berdasarkan Sistem Semester SD/MI.
Siswanto, Eko. 1995/1996. Petunjuk Penggunaan Alat Peraga Membaca dan Menulis
Permulaan di Sekolah Dasar Kelas 1. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikdasmen
Direktorat Pendidikan Dasar
Susiana.2008. Lancar Menulis Huruf Besar, Kecil dan Tegak Bersambung. Jakarta:
www.agromedia.net.
Tochir,A.Malik.1998. Pandai Membaca dan Menulis IA. Jakarta: PT. Amanda Citra
Indah
Tim BKG.2000. Bina Bahasa Indonesia IA.Jakarta: Erlangga
Tim BKG.2000. Bina Bahasa Indonesia IB.Jakarta: Erlangga
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: